Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Keyakinan Negatif

Keyakinan Negatif

Ada yang meyakini seyakin-yakinnya bahwa "saya bahagia kalau keinginan terwujud" atau "saya bahagia kalau punya uang Rp 1 M".

Kalau mau dibedah, keyakinan itu mengandung keyakinan "bila keinginan saya tidak terwujud, maka saya tidak bahagia" atau "bila saya belum punya uang Rp 1 M, maka saya tidak bahagia."

Tidak bahagia artinya MEMUTUSKAN untuk tidak mengalami rasa bahagia, alias merasa sedih, menderita, takut, atau menyesal.

Dengan kata lain, ada orang yang TAK SADAR memilih untuk merasa sedih, merasa menderita, merasa takut, atau merasa menyesal.

Ini sama saja mengkreasikan kondisi atau terhubung dengan orang yang membuat emosi menjadi sedih, menderita, takut, atau menyesal.

Misalnya investasi sampai mengorbankan tabungan pendidikan anak, gak tahunya rugi akhirnya merasa menyesal.

Maka terhubung dengan orang yang menawarkan investasi (bodong), lalu hati terdorong untuk menyukai program investasi itu, adalah hasil dari keputusan untuk MENJADI MENYESAL.

Sampai disini, jangan menyalahkan orang lain apalagi Allah saat mengalami kejadian negatif. Bisa saja itu adalah pilihan yang tak disadari.

Maka penting membedah apa keyakinan negatif itu dan ini tidak instan alias butuh proses. Lalu terapinya pun tidak instan, sebab bukan pil yang kalau ditelan langsung bereaksi.

Akhirnya banyak orang gagal disebabkan tidak menyadari keyakinan negatif dirinya sendiri. Merasa sudah sangat positif, merasa sudah sangat bijaksana. 

Sekarang setiap kita punya pilihan untuk membedah apa keyakinan negatifnya, apa peristiwa pemicunya, kapan terjadinya, dan siapa pelakunya melalui analisa tanda tangan lalu melakukan terapi secara berurut sampai tuntas.

Bila ini pilihannya, berdampak mudah menyusun imajimasi dan mewujudkannya. Sebab Allah senantiasa bersama prasangka hambaNya.

Wallahu'alam
Ahmad Sofyan Hadi

Posting Komentar untuk "Keyakinan Negatif"